SAKURA Japanese Learning Center, Bekasi

Home » #life » Langkah nyata membangun negeri

Langkah nyata membangun negeri

Almanak

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Anda adalah pengunjung ke:

  • 109,483 hits

Pengunjung site ini

My Face

Gagat Sukmono

Categories

“saya tidak punya modal ataupun keahlian,mana bisa berwirausaha”

Kalimat itu atau yg serupa sudah sangat sering saya dengar,bahkan sudah mewabah dan menjalar hampir ke seluruh tubuh masyarakat,dan hanya segelintir bagian yang mampu menyelamatkan diri dari ungkapan yang bahkan mungkin sudah menjadi sebuah mitos.

Tak terelakkan lagi,penyakit itu juga banyak melanda orang-orang di kampung saya,tidak hanya yang muda,bahkan yg sudah berkeluargapun banyak sekali yang menganggur dan terus menanti keajaiban,kali saja malam nanti ada wangsit yg menunjukinya jalan ke sebuah gudang harta karun.

Merubah mind set keliru yang sudah terlanjur mengakar ternyata tidak semudah membalik telapak tangan.Butuh banyak langkah nyata untuk meyakinkan mereka.

Kali waktu ketika pulang ke tanah air,saya sempatkan untuk melihat keadaan kampung.Mencoba mencari benang merah dari tumpukan kelesuan yg ada.Kenyataannya memang tidak sesederhana yang saya kira sebelumnya,namun juga tidak sesulit yg mereka kira sesudahnya.Keterbatasan keilmuan pada dasarnya tetap ada pada diri saya.Namun,ada benang merah yang dapat saya temukan di sana,walaupun saat ini memang masih terwujud tak lebih dari sebuah kesimpulan saja.

Bukan kemalasan yang menghalangi mereka,bukan keinginan mereka tak punya,kemajuan zaman yang terlalu cepat ternyata sudah jauh menyaingi laju roda dalam diri mereka.Sehingga utk bisa menyelaraskan jalan antara keduanya mereka butuh yg namanya”penggerak”.Penggerak yang mau berbagi bahan bakar,yang mampu mengarahkan mereka,yang mampu menyosialisasikan dunia lain di luar tempurung,sehingga mereka bisa tau kalo ternyata di belahan dunia sana ada kota roma yang tidak hanya satu jalan utk bisa mencapainya.

Di kampung yang mayoritas di huni penduduk tamatan SMA ke bawah memang rasanya terlalu berlebihan kalau kita harus membahas keterbelengguan diri atau yang sering disebut mental block dlm menganalisa ttg faktor penghambat kemajuan.Di dunia yang serba canggih seperti skrng ini,mungkin lebih bijak kalo kita menganggap kekurangpercayaan diri mereka utk memajukan kehidupannya adalah suatu bentuk dampak negatif yg wajar dari kemajuan teknologi.

Yang perlu saat ini adalah bukan berdebat mengenai benang merah yang sudah begitu jelas,namun kita butuh langkah nyata utk mencari jalan keluar utk mengatasi kelesuan tsb.

Beberapa langkah nyata yg terjadi di kampung saya semakin memperkuat kesimpulan yang akan saya perjelas nantinya.

Pulang ke tanah air beberapa waktu lalu,saya sempat membutuhkan bbrp orang tukang utk membenahi toko saya.Bapak saya memperkenalkan tetangganya di sana yang mempunyai bbrp orang tukang.Saya cukup terkejut,tetangga yg dimaksud itu ya tetangga saya yg dulu hidup biasa-biasa saja,tidak disangka skrng mampu menampung banyak tenaga kerja dari kampung kelahirannya di daerah jawa.

“Ini dia sosok yg pantas dibanggakan”pikir saya saat itu.

Semakin membanggakan saya,ketika saya tau tetangga lain yg juga begitu dekat dngn saya juga melakukan hal yg serupa,membawa saudara-saudaranya yg menganggur dan juga anak-anak muda yang lain utk bekerja bersamanya…

Inilah sebenar-benar cara penyelesaian yang nyata!!

Saya menjadi semakin yakin,memang seorang penggeraklah yang dibutuhkan oleh masyarakat.Karena nyatanya mereka sadar kalau menunggu uluran dari pemerintah hanya akan menyesaki dada mereka dengan harapan-harapan semu,jangankan menunggu langkah nyata,sekedar lirikan pun rasanya mereka sudah jengah utk berharap.

Namun di lain sisi,kekecewaan juga sering menggelayut dalam dada saya.Di saat orang-orang yang diberi kemudahan utk melanjutkan pendidikan tinggi,diberi kemudahan utk menjangkau informasi hampir ke seluruh penjuru dunia,mampu mendapatkan harta dengan usaha tangannya diharapkan utk bisa menjadi penggerak yang berkualitas namun justru dirinya terbelenggu dalam keidealisan yg lemah seperti lemahnya sarang laba-laba,kemudian mengambinghitamkan “ingin hidup sederhana”di saat dirinya sudah di posisi aman.Padahal sebenarnya hanya kepuasan individu sajalah yg semakin melemahkan idealisme mereka utk membangun bangsa.

Pola berpikir inilah yang kemudian memicu saya untuk sedikit beranjak dari keterlenaan,membagi waktu utk belajar dari hal yang kecil dalam dunia wirausaha,dengan harapan dan optimis yang besar agar suatu saat saya bisa menerapkan sebenar-benar penyelesaian yg nyata guna mengatasi kelesuan kampungku.

Gagat sukmono,Owner1 toko shafiyya

founder TEM(Tunas Entrepreneur Muda)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: