SAKURA Japanese Learning Center, Bekasi dan Karawang

Home » 2008 » April » 30

Daily Archives: April 30, 2008

Advertisements

Cerita Tentang tanggapan terhadap psikologi,dll.

Cerita yang satu ini sudah terjadi beberapa bulan yang lalu,kurang lebih dua bulan yang lalu.

Seru sekali,

kebetulan senior saya yang seorang sarjana psikologi saya ajukan pertanyaan,atau lebih tepatnya saya meminta tanggapannya selaku psikolog terhadap tanggapan sebagian orang yang menyatakan bahwa psikolog itu kerjaannya orang gila,atau psikologi itu ga bener,dan segala macemnya..

Wah..dituduh semena-mena seperti itu,sang sarjana ini tentunya tidak menerima,

Dalam kapasitasnya sebagai seorang psikolog dan juga seorang muslim yang baik beliau menuturkan tanggapannya tentang tanggapan sebagian orang yang lain yang “memvonis”psikologi sedemikian rupa.

Pembicaraannya yang cukup panjang memang tidak bisa saya serap persis detail sesuai dengan apa yang diucapkannya,namun intinya tentu dapat saya tangkap..

kira-kira begini:Realitanya orang-orang yang menganggap psikologi sebagai ilmu yang tidak baik adalah orang yang tidak berlaku subjektif dalam menilai,kalau dibahasa majaskan istilahnya pars prototo,menggunakan sebagiannya untuk menyebutkan keseluruhan.Pada intinya diakui dalam ilmu psikologipun ada hal-hal yang menyimpang(ini memandangnya sesuai syariat yang bener lho) contohnya saja,menggunakan musik dalam pertumbuhan otak anak kecil,memang sudah diketahui secara umum bahwa dalam syariat yang benar mendengarkan musik adalah terlarang,namun..teori tentang musik ini semata-mata memang benar-benar sudah dibuktikan oleh ilmuwan psikolog bahwa dengannya pertumbuhan otak seorang bayi akan cepat dan pesat.Teori yang dibuktikan dengan alat dan juga data-data yang diperolehnya.

Nah..yang disayangkan oleh senior saya ini,mengapa para orang yang “memvonis”tadi itu tidak terjun dulu membuktikan bahwa ada cara lain yang lebih baik daripada mendengarkan musik,misalnya saja seseorang bayi sejak bayinya selalu diperdengarkan murottal atau kajian-kajian tertentu,atau cara lain yang bisa mematahkan tentang teori pentingnya musik dalam pertumbuhan otak manusia.Tidak semata-mata mematahkan sebuah teori dan kemudian membombardir hingga sampai menyalahkan bidang ilmunya.

Di segi yang lain,kalaulah psikologi itu bukan bidang ilmu yang dibenarkan dan kemudian harusnya ditiadakan,lantas siapa yang mampu mengobati depresi anak kecil yang menjadi sangat takut dengan manusia dikarenakan kehilangan orang tuanya di saat bencana tsunami di aceh melanda?atau siapakah yang mampu mengobati depresi orang yang telah hidup dalam dunia khayalannya?Siapakah yang mengobati mereka,yang mampu menyelesaikan masalah mereka selain melalui tangan psikolog?

Jadi,bidang ilmu itu terlepas dari psikologi atau apapunlah tergantung dari siapa yang memakainya,seorang psikologpun kalaulah dia tahu akan kaidah beragama yang benar maka ilmunya insyaAllah akan bermanfaat.Sebaliknya seorang teknisipun atau dokterpun yang jelas-jelas bidangnya diperbolehkan kalaulah orang yang menguasainya tidak memiliki kaidah yang benar dalam beragama maka tetap saja mereka akan banyak melakukan maksiat..

Kesimpulannya:

  • Untuk menilai sesuatu,berusahalah sesubjektif mungkin dengan melihat keadaan yang sebenarnya
  • Ilmu itu tergantung siapa yang memakainya.
  • Janganlah cepat-cepat memvonis segala sesuatu padahal yang kita miliki masih minim

……………………………maaf kalau penyampaiannya masih amburadul,tulisan ini jangan dijadikan referensi untuk hal apapun,jadikanlah hanya sekedar masukan.

Gagat sukmono,owner1 toko shafiyya,founder TEM

Advertisements

NggAk SekAdar NgaMpUS

Nggak sekadar ngampus tulisannya Mas Bambang Q Anees ini memang topp banget(bukan promosi lho).Isinya sangat menyentuh hati.Lebih pasnya membuat telinga jadi pedes,dan dada jadi deg-degan..he..he.Buku ini bukan cerpen ataupun sejenis novel,tapi merupakan suatu bentuk penuturan opini tentang keadaan dunia “kegelapan”mahasiswa dalam realita yang ada yang kemudian dibarengi dengan pencahayaan alias tips agar kuliah tidak hanya sekadar ngampuss..

Baru permulaan isinya saya baca,namun panasnya sudah terasa,

Misal saja nukilan tulisan Andrias Harefa yang dimuat dalam buku tsb.

Lalu apa gunanya sekolah dan universitas kalau kita akhirnya hanya memproduksi beo-beo seperti para doktor pertanian yang tidak mampu membuat “jambu indonesia”atau “durian indonesia”,tetapi hanya membuat segala hasil-hasil pertanian serba Bangkok?………..

………Tidakkah sekolah dan universitas juga hanya mampu melahirkan sarjana-sarjana,bahkan belakangan juga doktor,yang bisanya cuma menjiplak hasil karya orang lain?Bukankah kita telah lama tahu bahwa sebagian besar sarjana kita tidak pernah menghasilkan karya tulis serius setelah diwisuda(bahkan juga para doktor dan profesor hanya sesekali menulis di media cetak untuk dapat disebut “pakar”.

Bagaimana?seru bukan?

Belum lagi nukilan dari tulisannya YB Mangunwijaya,tentang opininya sendiri mengenai memerdekakan manusia pegawai,menjadi manusia swasta.

Nukilan itu intinya begini,realita yang ada dunia pendidikan saat ini telah jatuh kepada power system yang justru mendidik manusia-manusia untuk menjadi “kuli babu” atau “panda-panda dalam sirkus”,bukan mendidik manusia yang kreatif.

Kalau memang tempat kuliahmu justru mendidik untuk menjadi kuli babu,jangan berkecil hati dulu,jadikanlah kuliahmu itu sebagai penyemangat dan kemudian disiplinkanlah dirimu sendiri agar kamu lebih bebas dan berfikir kreatif tidak terkekang dalam koridor yang sudah disediakan.

Itu semua bisa dicapai kalau kamu tidak kuliah hanya sekedar ngampus!!

hehe…kira-kira begitu isinya:D

Memulai dengan “?”(tanda tanya)

Memulai dengan tanda tanya adalah awal dari peningkatan kemampuan untuk mendapatkan informasi.

Saya jadi kembali teringat setelah membaca tulisan seorang jurnalis jepang,Ikegami Akira.Dia mengulang kembali tips yang pernah saya baca di blognya Pak Roni Yuzirman(Founder TDA).Bedanya,Ikegami Akira menjabarkan tips dalam konteks yang lebih luas.Sebagai seorang businessman mengumpulkan informasi untuk menutup kelemahannya adalah sangat penting.Sehingga kemampuan untuk mendapatkan dan menguasai informasi yang kita butuhkan juga sangat penting.Tanda tanya(?) adalah start point untuk mengasah kemampuan memperoleh informasi,begitulah Ikegami Akira menjelaskan dalam kolom Asahi Newspaper.Dari info-info yang bertebaran apa saja yang kita butuhkan,dari situ apa yang tidak kita ketahui kembali kita periksa info lengkapnya dan kemudian kita aplikasikan dalam bentuk transfer ilmu.

Pak Roni Yuzirman,menjabarkan tips untuk mendapat informasi dengan bahasan yang lebih terperinci,yaitu memulai segala sesuatu dengan kata tanya”Bagaimana?”.Sehingga kita lebih terfokus untuk memperoleh apa yang kita butuhkan.Misalnya”bagaimana caranya saya bisa mendirikan usaha tanpa modal?”maka alaminya otak atau mindset kita akan lebih terarah untuk mencari solusi untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dua-duanya tidak jauh beda,dan tetap sama-sama mantap,tips yang benar-benar membuka pemikiran untuk lebih terbuka dan lebih teratur…

Silakan mencoba..

Gagat sukmono

founder TEM,owner1 toko shafiyya.

Merubah diri dulu..khan?

Keinginan yang menggebu tak jarang membuat kita selalu ingin memperoleh apa yang kita inginkan dengan terburu-buru.Suksesnya lagi,sikap terburu-buru itu juga dibarengi langkah yang tidak beraturan.Menginginkan sesuatu dari ruang lingkup yang besar,misalnya selalu terfokus ingin merubah negara dahulu,kemudian baru berencana untuk mengarah ke hal yang lebih kecil.Padahal seyogyanya itu adalah hal yang terbalik.

Penuturan yg dinukil dari mukadimmah buku Manajemen Kecerdasan tulisannya mas Taufiq Pasiak memang sangat pas…

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,

Aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan

kearifanku,

Kudapati dunia tak kunjung berubah.

Maka cita-cita itupun agak kupersempit,

Lalu kuputuskan hanya untuk mengubah

negeriku.

Namun,tampaknya hasrat itupun tiada hasil.

Tatkala usiaku makin senja,

dengan semangatku yang masih tersisa,

Kuputuskan untuk merubah keluargaku,

Orang-orang yang paling dekat denganku.

Sayangnya,merekapun tak mau diubah.

Kini,sementara aku berbaring menunggu ajal

menjelang,

Tiba-tiba kusadari:

Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah

diriku,

Maka dengan menjadikan diriku teladan,

Mungkin aku bisa mengubah keluargaku.

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,

Bisa jadi akupun bisa memperbaiki negeriku.

Kemudian siapa tahu,aku bahkan bisa

mengubah dunia.

Merubah diri sendiri dahulu,tentulah cara yang sangat bijak jika anda ingin merubah orang-orang di sekeliling anda.Kuatkanlah diri anda dengan konsistensi terhadap apa yang anda lakukan,karena yakinlah itu adalah satu-satunya cara cepat yang bisa anda tempuh untuk merubah sekeliling anda.

Bukankah begitu?