SAKURA Japanese Learning Center, Bekasi dan Karawang

Home » 2008 » July » 03

Daily Archives: July 3, 2008

Advertisements

Masyarakat indonesia ternyata super sibuk!!??

Belajar ke luar negeri,tentunya banyak tujuan yg ingin dicapai,misalnya saja ingin mempelajari teknologinya yg jauh lebih maju,atau pengen mempelajari pola kehidupannya yg disiplin dan menarik,suka kebudayaannya,dan lain sebagainya,pada intinya dan pada umumnya semua bertujuan mengambil sesuatu yg nantinya bermanfaat baik buat dirinya maupun buat orang lain.
Tapi gimana jadinya kalau ternyata setelah belajar lama di luar negeri justru membuat “keder” hidup di negeri sendiri?..
Bukan karena mental yang tidak tertempa dengan baik,bukan juga karena tidak mampu,namun ini adalah bentuk “culture shock”terhadap negeri sendiri setelah bbrp waktu lamanya beradaptasi dengan pola hidup di negara lain.Culture shock kalau dimisalin secara sederhana ya seperti shocknya orang jawa ketika pertama kali mendengar cara ngomong orang-orang sumatera yang berdesibel tinggi.Atau seperti shocknya orang padang saat makan gudeg jogja yg rasanya manis.
Kalau dibahasakan sedikit resminya culture shock adalah rasa gamang dan kaget yang muncul akibat adanya perbedaan kebudayaan maupun pola kehidupan.
Cuture shock terhadap negeri sendiri bukan berarti seperti halnya”kacang lupa kulitnya”,sama kebiasaan negeri sendiri kok ya bisa-bisanya jadi canggung.
Tenang aja,ini adalah gejala yg wajar,bukan hanya dirasakan oleh orang-orang yang lama tinggal di LN saja,tapi juga tentunya dirasakan oleh orang-orang yg sudah terbiasa dengan pola kehidupan di suatu tempat dan kemudian kembali ke daerah asalnya,pada awalanya tentu akan merasa aneh dengan beberapa kebiasaan yg mungkin dulunya juga sudah sering mereka lakukan.
Tinggal di luar negeri,posisi yang pas kalau ingin menerapkan cara”think out of the box”terhadap negara sendiri.Dan klo pulang ke negeri sendiri ternyata sudah bisa merasakan adanya culture shock itu tandanya hasil think out of the box nya sudah bisa kita rasakan,nah tinggal di list satu persatu,mana kekurangan-kekurangan negara sendiri dan apa saja kelebihan-kelebihan yang ga dimiliki di negara lain.(Walaupun klo menilai indonesia,yg lebih panjang ya list kekurangan-kekurangannya:D).
Contoh culture shock yg saya rasakan itu begini lho..
Setelah lama menetap di jepang,ternyata saya berkesimpulan,”orang-orang yg mengatakan masyarakat indonesia pemalas adalah salah besar!!bahkan lagi,masyarakat indonesia “terlihat” punya pola kehidupan yg super duper busy,”terlihat” punya jam terbang tinggi,”terlihat” memiliki kegiatan super padat melebihi kebiasaan masyarakat jepang yg memiliki jam kantor perhari tertinggi di dunia.Ga percaya?kalo punya waktu coba aja rekan semua nongkrong di area perempatan jalan di kota-kota gede,amati keadaan ketika lampu merahnya sedang menyala.liat aja motor-motor bukan hanya satu atau dua,tapi berpuluh-puluh motor,menyelip perlahan-lahan diantara mobil-mobil yg sedang berhenti,jalan comberan,berlubang,berbatu ga jadi halangan libas terus beringsut lomba cepat-cepatan untuk baris di bagian paling depan.Udah gitu,baru saja lampu di arah yg berlawanan berwarna kuning menyala,suara gas motor dan mobil bersahut-sahutan kayak mau memulai race sambil maju sedikit demi sedikit.Pernah suatu ketika ikut siap-siap race,pas bonceng ojek di jakarta sempat lihat bapak-bapak yang terjebak di tengah jalan,pucat pasi kebingungan mau nyeberang,padahal ratusan motor sudah beranjak maju dan siap meluncur dengan high speed.Padahal andai saja ratusan motor dan mobil itu mau bersabar sedikit sampai menunggu lampu hijau benar-benar menyala tentunya si bapak masih terus bisa tersenyum sampai seberang jalan.
Ga kebayang gimana jadinya kalau masyarakat bermobil dan bermotor indonesia tiba-tiba di tempatkan di jalanan kota-kota besar jepang yg hampir tiap seratus meter ada lampu merahnya.Jangan-jangan yg mengatur lalu lintas di jepang bisa di maki-maki karena banyak membuang waktu menunggu saat lampu-lampu merahnya pada menyala.
Kebayang khan,betapa sibuknya masyarakat indonesia?sampai-sampai ga bisa menunggu barang beberapa menit untuk mematuhi peraturan.Ga hanya di jakarta,mungkin hampir di seluruh tempat di indonesia yg udah pake lampu merah.Jangankan 1 menit,coba aja kamu ketinggalan melaju 2 detik dari lampu hijau menyala,beuh..jangan kaget kalo tiba tiba bunyi klakson bertubi-tubi seakan memaki dirimu.Bunyi yg jarang sekali terdengar di jalanan sepadat apapun di jepang.
Mau bukti yg lain?Kalau ada kesempatan,coba teman-teman amati gimana meriahnya suasana di bandara penerbangan domestik,nah klo ada kesempatan juga coba bandingkan dengan keadaan bandara penerbangan internasional,atau boleh juga ditanya sama teman yg sering menggunakan penerbangan internasional.
Di bandara domestik yg nota bene penggunanya kebanyakan adalah warga indonesia tulen,jangan heran kalau banyak calon penumpang yang nyerobot pengen duluan dilayanin check in,tanpa tampang tak bersalah main lewat saja tanpa ngantri..weleh-weleh..apa yg dikejar sih,mbok ya sabar ngantri sebentar.Apalagi setelah pengumuman penumpang dipersilahkan masuk ke pesawat,kayak lomba lari saja,orang-orang pada berhamburan berebut cepat-cepatan masuk ke pesawat(baru pertama kali naik pesawat kali ya),padahal kan kursi udah ditetapin..hmm..udah gitu pas landing,baru saja mendarat,pengumuman agar tetap duduk dengan sabuk pengaman belum selesai,orang-orang sudah berhamburan mengambil barangnya masing-masing dan ambil posisi agar bisa cepat keluar,orang-orang yg senasib dengan saya yg terbiasa santai,mengikuti peraturan alamat akan keluar diurutan-urutan terakhir.hmm..kesibukan apa yg dikejar ya,kok sedikit orang-orang yg mau bersabar mematuhi peraturan dan mengikuti petunjuk yg ada.
Beda dengan keadaan di bandara internasional,lebih rapi,ngantri,masuk berurut,keluar juga dengan santai..enak liatnya.
Dengan keadaan seperti ini,wajar sebenarnya kalau ternyata culture shock yg timbul menyebabkan keder atau justru sering membuat panas.Ga ngebut-ngebutan dibilang ga jantan,atau dapat semprotan klakson bertubi-tubi,berusaha menaati peraturan malah makan hati,mau jadi warga yg baik tapi tetep aja urusan birokrasi ribet.
Apa yg didapatkan setelah belajar di negara sekeren apapun,untuk saat ini belum bisa bertaji di tengah masyarakat..
Ilmu yg didapat Hanya sekedar jadi pengetahuan..ntah kapan bisa menerapkannya..

Gagat sukmono,owner1 tokoshafiyya,founder TEM

image dari sini

Advertisements

Pembodohan publik besar-besaran

Sepertinya selalu belum pantas untuk membandingkan sebagian besar aspek kehidupan,antara negeri kita tercinta dengan “saudara tua” kita di asia timur,jepang.Bukan hanya dari aspek teknologinya,namun sampai pola kehidupan yg terkecilpun kita masih sangat perlu untuk berguru kepada mereka.

Coba saja kita pick up,tren negeri yg mungkin dianggap biasa tapi tanpa sadar justru menjebloskan diri kita bahkan keluarga kedalam “program”pembodohan bangsa,melalui teknologi “kotak audio visual”atau terebi,atau bahasa kampungnya disebut”tipi”.
Ini terkait dengan isi tontonan yang disajikan sebagaian besar stasiun televisi indonesia,yang isinya bener-bener ga bermutu.
Televisi,saat ini sudah bukan menjadi barang mewah,setiap rumah penduduk sudah memilikinya,hampir diseluruh pelosok negeri.Dari anak-anak,remaja,dewasa dan kakek nenekpun semua bisa melihat.Terbayang khan betapa gawatnya kalau tontonan televisi isinya pada ga bermutu?.Gila aja kalau ternyata anak-anak SD sekarang udah pada jago ngafalin nama-nama artis,hafal judul lagu sekalian isinya tanpa kurang baitnya.Ya wajar aja sih ya,wong yang disajikan aja isinya gosiip seleb mulu sih..pernah ngitung acara ngomongin seleb di tv berapa kali sehari?saya juga ga pernah ngitung,tapi yg pasti dibandingin ama jepang yg hampir ga pernah menayangkan acara khusus artis2nya,acara gosip di tv indonesia boleh dibilang jumlahnya sangat banyak.
Acara lain yg ga mati-matinya di indonesia,ya acara dangdutan,musik-musikan dan nyanyi-nyanyian.Atau indonesia emng negaranya penyanyi-penyanyi berbakat terbanyak sedunia kali ya.Berita juga isinya korupsi,penyelewengan,kriminal,bencana,demo..pening pala dibuatnya..
Bagi kaum terpelajar mungkin sudah bisa membedakan dan menjauhi mana yg bermanfaat dan tidak,tapi coba bayangin aja pada kenyataannya di indonesia saat ini masih banyak penduduk menengah kebawah dari segi pendidikan yg belum bisa membedakan mana acara yg mencerdaskan mereka,bahkan ayalnya lagi saat ini semakin banyak keluarga-keluarga yng menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada kotak televisi itu,membiarkan anak-anaknya larut dalam tontonan yg disajikan tanpa ada kontrol,..
Betapa gawatnya mental anak-anak negeri kalau terus disuapin tontonan-tontonan yg ga bermanfaat.Gimana ga dibilang pembodohan publik besar-besaran,kalo ternyata tontonan di negeri kita justru membuat masyarakat kacanduan sama hal-hal yg sifatnya hanya menghibur sesaat aja.Dan ga mengarahkan masyarakat untuk semangat menuntut ilmu.
Di jepang sendiri,acara tontonan yg bermutu itu seabrek,kuis yg isinya pengetahuan jepang maupun dunia,pola hidup yg sehat,makanan yg bermutu,dokumentari lingkungan,dll,adapun acara sinetron dan movie biasanya ditayangkan jam 9 keatas,jamnya anak-anak kecil udah pada tidur.
Ini memang blom pantas untuk dijadiin bandingan,terlalu jauh,tapi ya minimal sebagai pengetahuan dan sharing aja.
Sebagai solusinya,bagi kita yg sudah tau dan terpelajar dan sadar akan tidak bermutunya acara-acara tv di negeri kita,sebaiknya ga henti-hentinya memasyarakatkan budaya membaca buku-buku yg berkualitas,minimal kepada keluarga kita,memberi alternatif lain saat memberi hadiah,yaitu sebaiknya menghadiahi sebuah buku atau sarana yg berpendidikan lainnya,mengontrol anak-anak saat menonton televisi,dan laen laen..atau ada yg lain?

just sharing
gagat sukmono,

image dari sini