SAKURA Japanese Learning Center, Bekasi

Home » #motivation » Apakah anda bermental “terjajah”?

Apakah anda bermental “terjajah”?

Almanak

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Anda adalah pengunjung ke:

  • 116,305 hits

Pengunjung site ini

Gagat Sukmono

Categories

Banyak selentingan untuk kebanyakan warga indonesia yang kedengarannya senewen,namun setelah dipikir,ternyata cukup masuk akal.

Negara kita,indonesia,seyogyanya baru merdeka kurang lebih 63 tahun yang lalu,setelah dijajah oleh belanda 350 tahun,dan jepang 3.5 tahun lamanya.Kurun waktu yang tidak sebentar,bahkan boleh dibilang jumlah waktu yang cukup untuk mendoktrin pemikiran seluruh bangsa sesuai keinginan dan arahan para penjajah.Hampir 4 abad bangsa kita diperbudak,masyarakat didoktrin untuk nurut,dan loyal menjadi budak-budak pekerja.

63 tahun kemerdekaan.Negara sudah berdiri secara berdaulat,namun ternyata efek “doktrinisasi” dimasa penjajahan tak hilang begitu saja.Di zaman modern,canggih,dan informasi yang terbuka luas seperti saat inipun,masih banyak masyarakat indonesia yang terkungkung dalam mental”terjajah”,lebih suka menjadi “abdi”alias pekerja ketimbang menjadi “bos”alias sang pengusaha.

Sepertinya ini semua erat kaitannya dengan efek penjajahan yang baru berlalu belum sampai seabad lamanya.Mental terkungkung dalam “kepekewuhan”yang tidak pada tempatnya,malu,tidak berani,nyaman dalam zona yang biasa-biasa saja,minder,suka dipekerjakan,dan berbagai sifat-sifat”kecil”lainnya.

Saking parahnya sifat-sifat “kecil”ini,membuat cara berfikir kebanyakan masyarakatpun semakin tidak objektif atau bahkan buta membaca realita.Contoh nyata yang disajikan,seakan tidak menggugah sama sekali terhadap jiwa-jiwa yang masih”terjajah”di negeri yang sudah merdeka ini.

Tak dapat dielakkan,mental seperti ini,adalah salah satu faktor besar penghambat kemajuan bangsa kita.Bukan hanya masyarakat kecil yang mau tidak mau bisanya cuma”nrimo”tapi mental “terjajah”ini juga masih bercokol di dada para anak muda,pelajar,bahkan mahasiswa doktoral sekalipun.

Salah satu bukti nyata masih banyaknya mental”terjajah”dikalangan pelajar adalah,bukti masih banyaknya para pelajar yang menuntut ilmu tinggi hanya untuk mudah cari “gawean”,tak terlepas juga mahasiswa-mahasiswa yang bersekolah di sini,jepang.Setelah tamat mereka berbondong-bondong cari perusahaan yang top,bergaji besar,…ga jauh jauh dari yang namanya jadi”pekerja”yang dipekerjakan.

Pulang kenegara sendiri,juga palingan terjun ke politik praktis,menjadi pendidik yang hanya bisa “membual”,cari duit untuk numpuk tanah,sawah dan rumah..

Kalau begini,kapan negara kita bisa maju?

Hal yang sama juga pernah disampaikan Ciputra dalam kompas.com

Kamis, 12 Juni 2008 | 06:26 WIB

JAKARTA, RABU – Lapangan kerja yang ada tidak mampu lagi menampung lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya jutaan setiap tahun. Penyerapan tenaga kerja tidak bisa hanya bergantung pada perusahaan yang sudah ada. Dibutuhkan 4,4 juta wirausaha sejati untuk membantu menyelesaikan masalah itu.

Demikian disampaikan Presiden Komisaris PT Ciputra Tbk Ciputra dalam peluncuran program Ernst and Young ”Entrepreneur of the Year 2008” di Jakarta, Rabu (11/6). Pengusaha properti terkemuka ini menjadi peraih penghargaan Indonesia Entrepreneur of The Year 2007. Tahun ini penghargaan bagi wirausaha terbaik Indonesia diselenggarakan untuk ke-8 kalinya.

Untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan, menurut Ciputra, tidak ada lain kecuali melahirkan wirausaha-wirausaha. Ini menjadi tantangan berat buat Indonesia. ”Dan pengusaha yang ada jangan melakukan pemutusan hubungan kerja,” kata Ciputra.

Menurut Ciputra, seorang wirausaha atau entrepreneur adalah orang yang dapat mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Wirausaha sejati tidak hanya mampu mengubah rongsokan jadi emas, tetapi juga dapat melahirkan wirausaha sukses lainnya. ”Di Eropa, kewirausahaan sudah populer 6-7 tahun lalu, sementara di Amerika 30 tahun lalu. Pemerintah di negara-negara Eropa aktif membantu dan menjadikan entrepreneur sebagai gerakan nasional,” kata Ciputra.

Menurut pakar manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, pendidikan kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini, misalnya cara berdagang kecil- kecilan.

Mata kuliah kewirausahaan, kata Rhenald, acapkali gagal karena dosennya tidak mempunyai pengalaman kewirausahaan. Siswa hanya diajarkan membuat perencanaan bisnis, bukan bisnis riil. Selain itu, ada kekeliruan dalam memahami wirausaha. ”Sebagian besar kaum muda menggambarkan wirausaha sebatas perdagangan. Bagaimana mendapat modal, lokasi, dan punya produk untuk dijual,” tuturnya. Untuk itu, kata Rhenald, meski bersifat sesaat, pikiran entrepreneur harus ditingkatkan.

”Bagaimana memproduksi sesuatu dan memiliki keberanian mengambil risiko,” ujarnya.

Untuk mendorong kemajuan bangsa, Indonesia membutuhkan wirausaha sebanyak 2 persen dari total jumlah penduduk. ”Saat ini kita hanya punya 0,1 persen atau sekitar 400.000 entrepreneur,” kata Ciputra.

Pemerintah, kata Ciputra, terlalu bangga menyebut Indonesia punya 48 juta wirausaha. Padahal, itu baru wirausaha, belum menjadi wirausaha sejati.

Saya:

Membangun pondasi ekonomi kerakyatan yang tangguh,dengan menumbuhkan jiwa wirausaha sejati,sepertinya jalan tercepat untuk memajukan bangsa kita.Cukuplah Thailand,Vietnam,dan India negara yang beberapa tahun lalu keadaannya tidak jauh lebih baik dari negara kita,menjadi contoh,semakin maraknya pebisnis sejati di negara mereka,membawa mereka semakin tumbuh besar,dan mungkin akan jauh meninggalkan kita,

Jadilah pengusaha sejati,segera take action..

ah..ada ada aja.

Gagat sukmono,Owner1 Tokoshafiyya,founder TEM

nb:image dari sini

Advertisements

3 Comments

  1. suhud88 says:

    Merdeka untuk apa?
    Karena sudah dimerdekakan dari dosa, maka seharusnya kemerdekaan tidak diisi dengan berbuat dosa lagi. Jika kita sadar bahwa kemerdekaan adalah anugerah Tuhan, maka seharusnya kita memberikan seluruh hidup yang sudah dibebaskan ini untuk menjadi hamba-Nya. Tapi, banyak orang yang tidak tahu terima kasih. Sudah dapat anugerah kemerdekaan, tapi tidak mempergunakan seluruh kesempatan dalam kebebasan untuk menyatakan kemuliaan sang pemberi, yaitu TUHAN.

    Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan kita untuk menjadi hamba-Nya. Dia sudah berlimpah dalam segala sesuatu. Tapi Dia ingin memakai kita untuk melayani sesama, orang-orang yang masih terjajah dengan dirinya dan segala keadaannya yang berdosa. Itu sebabnya Paulus mengatakan, layanilah seorang dengan yang lain oleh kasih.

    Kemerdekaan seharusnya diisi dengan kebebasan dari diri sendiri dan melayani orang lain dengan kasih. Orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, keluarga dan mimpi-mimpinya sesungguhnya adalah orang-orang yang hidup dalam penjajahan. Orang merdeka adalah orang yang sudah bebas dari dirinya dan mau memuliakan Tuhan dengan melayani sesama.

    Sudahkah Anda merdeka? So what?

  2. suhud88 says:

    Banyak selentingan untuk kebanyakan warga indonesia yang kedengarannya senewen,namun setelah dipikir,ternyata cukup masuk akal.

    Negara kita,indonesia,seyogyanya baru merdeka kurang lebih 63 tahun yang lalu,setelah dijajah oleh belanda 350 tahun,dan jepang 3.5 tahun lamanya.Kurun waktu yang tidak sebentar,bahkan boleh dibilang jumlah waktu yang cukup untuk mendoktrin pemikiran seluruh bangsa sesuai keinginan dan arahan para penjajah.Hampir 4 abad bangsa kita diperbudak,masyarakat didoktrin untuk nurut,dan loyal menjadi budak-budak pekerja.

    63 tahun kemerdekaan.Negara sudah berdiri secara berdaulat,namun ternyata efek “doktrinisasi” dimasa penjajahan tak hilang begitu saja.Di zaman modern,canggih,dan informasi yang terbuka luas seperti saat inipun,masih banyak masyarakat indonesia yang terkungkung dalam mental”terjajah”,lebih suka menjadi “abdi”alias pekerja ketimbang menjadi “bos”alias sang pengusaha.

    Sepertinya ini semua erat kaitannya dengan efek penjajahan yang baru berlalu belum sampai seabad lamanya.Mental terkungkung dalam “kepekewuhan”yang tidak pada tempatnya,malu,tidak berani,nyaman dalam zona yang biasa-biasa saja,minder,suka dipekerjakan,dan berbagai sifat-sifat”kecil”lainnya.

    Saking parahnya sifat-sifat “kecil”ini,membuat cara berfikir kebanyakan masyarakatpun semakin tidak objektif atau bahkan buta membaca realita.Contoh nyata yang disajikan,seakan tidak menggugah sama sekali terhadap jiwa-jiwa yang masih”terjajah”di negeri yang sudah merdeka ini.

    Tak dapat dielakkan,mental seperti ini,adalah salah satu faktor besar penghambat kemajuan bangsa kita.Bukan hanya masyarakat kecil yang mau tidak mau bisanya cuma”nrimo”tapi mental “terjajah”ini juga masih bercokol di dada para anak muda,pelajar,bahkan mahasiswa doktoral sekalipun.

    Salah satu bukti nyata masih banyaknya mental”terjajah”dikalangan pelajar adalah,bukti masih banyaknya para pelajar yang menuntut ilmu tinggi hanya untuk mudah cari “gawean”,tak terlepas juga mahasiswa-mahasiswa yang bersekolah di sini,jepang.Setelah tamat mereka berbondong-bondong cari perusahaan yang top,bergaji besar,…ga jauh jauh dari yang namanya jadi”pekerja”yang dipekerjakan.

    Pulang kenegara sendiri,juga palingan terjun ke politik praktis,menjadi pendidik yang hanya bisa “membual”,cari duit untuk numpuk tanah,sawah dan rumah..

    Kalau begini,kapan negara kita bisa maju?

  3. saleh aziz says:

    dasar kafir!!!!! perut melulu diurusi ,kafir masuk neraka ente semua. ciputra china kafir sesat kurang ajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: