SAKURA Japanese Learning Center, Bekasi dan Karawang

Home » #life

Category Archives: #life

Big winning-最優秀発表者

imgAlhamdulillah,akhirnya “presentasi tugas akhir” sudah selesai.

Dan hasilnya sangat..sangat luar biasa.Ini satu langkah besar lagi buat saya untuk terus maju.

Dalam acara presentasi hasil tugas akhir jurusan Environmental science and technology,shinshu Univ.Jum`at,13 februari 2009,saya terpilih menjadi “Saiyuushuu happyousha“(the best of presentator)-dalam piagam hanya ditulis “yuushuu happyousha“-

Saya terpilih menjadi yang terbaik diantara mahasiswa-mahasiswa jepang dan juga mahasiswa asing yang lain:DAlhamdulillah…

Prestasi ini saya peroleh juga berkat dukungan istri tercinta,semangat dari putri saya,dan teman-teman yg terus mendukung saya untuk maju.Terimakasih banyak ya..

Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat buat saya untuk terus dan terus maju ,..

InysaAllah,Allah akan memberikan yang terbaik jika kita mau berusaha..

AYo terus semangat ya…

Lain kali saya akan buatkan tips presentasi yang paling top insyaAllah:D

nb:sayang sekali momen itu tidak terabadikan dalam kamera,lupa bawa kameranya..hehee..

Preparing Presentasi Akhir

Assalamu`alaikum teman semua,

Jum`at 13 februari,minggu ini insyaAllah,Saya presentasi tugas akhir dengan tema”Transfer electron in the dye doped titania multi layer”salah satu bagian penelitian mengenai”Dye-sensitized solar cells”(solar panel dengan zat pewarna).

Beberapa minggu belakangan ini cukup sibuk mempersiapkan presentasi dan juga menyelesaikan skripsi,jadi blog lumayan terbengkalai beberapa saat,insyaAllah segera kembali setelah kesibukan agak reda.

Mohon do`a dari teman semua,mudah-mudahan bisa berjalan lancar ya,dan hasilnya memuaskan.

Setelah itu,mari kita cerita lagi tentang banyak hal..hehehe…

sekian wassalamu`alaikum

Gagat sukmono

I Love books…

Book is…omoide

Book is…sekai

Book is…takaramono

Book is...ai o afureru kokoro

Book is…kako e no time machine

Book is…mirai e no kakehashi..

Book is…aku dan kamu…

by gagat

Berkisah tentang buku,selalu saja membuatku harus jujur kalau aku benar-benar menyukainya..

Bagiku,buku mempunyai dimensi ruang dan waktu tersendiri yang bisa membawaku kepada sesuatu yang mengasyikkan..mampu menginspirasi dan mampu menggerakkan..

Sejak kecil,kesukaanku terhadap buku begitu besar..

Dulu aku termasuk anak yang kurang suka bermain ke rumah tetangga kalau hanya untuk bermain seperti anak-anak biasa,tapi berbeda ceritanya kalau pergi ke rumah tetangga untuk meminjam buku atau hanya sekedar numpang membaca buku.Rumah temen yang jauhpun akan disamperin.

Saat kecil,kehidupan kami sangat sederhana,ekonomi hasil sawah dan pegawai negeri sipil hanya pas-pas an untuk makan sehari-hari dan uang sekolah,hampir dipastikan nggak ada uang lebih untuk membeli buku.Satu-satunya cara untuk mendapatkan sumber bacaan ya dengan meminjam ke teman-teman.

Sebenarnya nggak ada buku khusus yang  kugemari,semua jenis buku bacaan akan saya baca tanpa filter.Isi buku itu baik atau tidak saat itu aku belum tahu,yang aku tau itu buku bacaan dan aku suka membaca,itu aja.Buku bacaan yang sering aku santap,mulai dari bacaan anak-anak seperti majalah BOBO,Donald duck,Kumpulan cerita Anak yang rutin dipinjam dari sekolah,dll.Hingga bacaan kategori untuk orang dewasa spt Sabili,tempo,wiro sableng(dan puluhan seri pendekar yang lain),kitab kisah orang sholeh,buku teks panduan kuliah D3 punya Ibu,agenda bapak,catatan pribadi Ibu:),dan sebagainya..Kalau dilihat sekarang,buku bacaan seperti itu mungkin kurang menarik,tetapi bagiku itu luar biasa,dan karena memang itulah yang ada,maklumlah kehidupan keluargaku dan juga orang-orang di sekelilingku bukanlah orang-orang borjuis,kami hanyalah kumpulan petani yang saat itu belum melek terhadap pendidikan,dan bacaan-bacaan yang adapun hanya yang sederhana-sederhana saja dan kurang variatif.Kesimpulannya boleh dibilang dunia kami dulu sebenarnya masih jauh dari dunia buku bacaan..

After 15 years,Now,dunia perbukuan seakan-akan berubah 179 derajat,bermacam jenis buku bermunculan seperti jamur sawit.Dunia penulisan sepertinya sudah punya tiket kebebasan dalam menulis,segala hal ada..politik,agama,kesehatan,pendidikan,novel,cinta..segala macem ada,versinya bermacam-macam pula.Dari yang isinya ilmiah berdasar keilmuan,sampai yang isinya hanya sekadar pendapat cetek para penulisnya.

Dunia revolusi buku ini juga sudah menjamah ke desaku.Buku sekarang begitu mudah mendapatkannya.Malahan aku sendiri punya toko buku.

Kalau dulu,bingung karena bacaan nggak ada,kalau sekarang bingung mana yang mau dibaca..?:D

Koleksi bukuku juga lumayan banyak,especially contents yang sifatnya religi,ada Manajemen qalbunya Ibnul qayyim,Kabair Galaksi dosa,Madarijus salikin,sirah shahabiyah,dan banyak yang lainnya,buku yang lainnya juga banyak,ada Marketing revolutionnya TDW,Kalau mau kaya Ngapain Sekolah karya Edy zaqueus,MBIG nya Jonru,dll..yang dalam bhs jepang juga ada beberapa,Mind Hacks nya Sasaki shogo,Matrix benkyouhou,Nou o ikasu benkyouhou(brain&study) Mogi kenichiro,Limited president nya Nozomi chan,kabe(the wall)nya Ishii hiroyuki,trus buku pelajaran juga banyak banget neh..hehe..

I Love books banget dah..

InsyaAllah,akan terus dan terus mencintainya..

Gagat

Sandiwara langit:Buku yang sangat layak diburu,untuk dibaca

Tadi Rekan Lab saya ngasih rekomendasi buku,judulnya Sandiwara Langit,katanya isi buku baguuuus banget,sayapun jadi sangat tertarik.Saya masukin ke list buku yang sedang diburu.

Searching diberbagai sumber online(blog) ternyata sudah banyak yang menulis resensi isi bukunya,di antaranya inilah yang saya pilih sebagai referensi yang sangat menarik dan penulisan yg bagus.

Saya ambil dari blog Musafir kecil(klik)

Silakan dibaca resensinya,memang luar biasa.

Sandiwara Langit

Judul Buku : Sandiwara Langit

Tebal Buku: 200 halaman

Penulis: Al Ustadz Abu Umar Basyier

Penerbit: Shofa Media Publika

Resensi Sederhana menurut musafir kecil

Saya akan mulai dengan pengantar dari penerbit yang bagi saya cukup mewakili untuk menggambarkan buku ini, dan berikutnya akan saya tuliskan beberapa sinopsis singkat dari paragraf-paragraf penting yang terdapat dalam bab-bab buku ini.

Adalah Rizqaan, tokoh utama dalam buku ini, salah satu contoh, dari segelintir umat manusia yang secara apik dianugerahi kekuatan dalam menjalani semua takdirnya, yang teramat berat dan sakit menyayat, namun begit penuh hikmah na harum dan indah memikat.

“Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperolah kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya.” (Riwayat Ahmad dan Abu dawud)

Ia adalah pemuda shalih, yang berjuang keras menyelamatkan diri dari fitnah membujang, dengan segera menikah dengan segala keterbatasan yang ada. Modal belum ada, pekerjaan pun tak punya. Dan Halimah pemudi yang juga shalihah, putri pak rozaq, seorang pengusaha kaya raya menjadi pilhannya. Meski dari keluarga apa adanya, sebagai muslim idealis, ia tak gentar menemui keluarga Halimah, untuk maju meminang. Terkesan nekat, tetapi begitulah, selama itu adalah kebenaran yang diyakin, pantang bagi rizqaan untuk bersurut langkah.

Keunikan kisah ini, dimulai ketika pak rozaq mau menikahkan mereka, namun dengan satu syarat. Bila dalam sepuluh tahu ia tidak bisa “sukses” (baca: kaya raya menurut barometernya) dan “membahagiakan” Halimah, maka ia harus menceraikannya.

Ah, hidup memang benar-benar penuh hal tak terduga, yang kadang begitu sulit dipercaya. Yang tak jarang memaksa kita untuk menerima realita, bahwa itu memang benar terjadi adanya. Selama sepuluh tahun itu, mereka makin menemukan cinta sejati, cinta hanya karena dan kepada Allah semata. Makin kuat, mengakar dan menghebat, lebih dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Mengokohkan jiwa mereka dan menhadapi segala badai yang menerpa, dari kematian ayah Rizqaan dala kebakaran pabrik, yang juga membangkrutkan usahanya, hingga berujung pada perceraian yang dipaksakan, demi menepati perjanjian. Atau kisah kematian Halimah yang begitu dramatis, sampai kebesaran hati Rizqaan memaafkan ‘dalang’ penyebab kebakaran sekaligus kematian ayahnya.

Yang istimewa, cerita yang tersaji dalam buku ini, adalah pemaparan kembali dari kisah nyata yang-insyaAllah- benar-benar terjadi, untuk bersama kita petik hikmahnya. Makin memikat, saat penyusun kisah, Ustadz kami Abu Umar Basyier Al-maedany, juga menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah untuk makin memperkuat bahasan.

Sangat berbeda dengan buku “sejenis” yang terlanjur meracuni umat, dengan kisah fiktif, sandiwara atau satra penuh rekayasa. “Racun” tersebut semakin kabur dan sulit dikenali, dengan pelabelan Islami yang sangat dipaksakan, entah itu pada novel maupun cerpen murahan dan kawan-kawannya. Bagaimanapun, secara umum Islam tidak pernah mengajarkan dusta untuk mencapai –semulia apapun- tujuannya.

Sinopsis singkat (bagian warna adalah kutipan dari buku)

Pria Muda yang ingin menikah

“Begini ustadz. Usia saya sekarang baru 18 tahun. Namun terus terang, saya sudah ingin sekali menikah. Saya khawatir terjebak dalam perzinaan, bila saya harus menunda menikah lebih lama lagi.” Tanpa sungkan pemuda itu menceritakan keinginannya. Cerita itu sendiri sejatinya sudah memuat pertanyaan. Namun saya ingin tahu lebih jauh. Saya biarkan dia terus bercerita.

“Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tidak kuat menahan godaan syahwat. Saya telaten puasa dawud satu tahun ini, untuk menjalankan sunnah Rasul. Gejolak itu memang teredam sebagiannya. Namun yang masih tersisa begitu kuat. Dan saya merasa tersiksa. Apa saya sudah layak menikah ustadz?”

Berikutnya terjadi tanya jawab antara pemuda tersebut dan sang ustadz, seputar pernikahan, kondisi pemuda tersebut yang memang belum mapan, dan tidak mempunyai pekerjaan, dan kemauan dari calon mertuanya untuk menikahkan putrinya dengan pemuda yang sudah mapan. Sang ustadz pun menyarankan agar pemuda tersebut memusyawarahkan hal tersebut dengan orang tua sang calon.

Kesepakatan atau perjudian?

“Calon mertua saya itu ternyata orang yang berpendirian kuat, tapi ambisius. Ia bersedia menikahkan saya dengan putrinya, tapi dengan sebuah tantangan.”

“Tantangan”

“Ya. Ia menantang saya, dengan justru tidak akan membantu kami, bila kami menikah. Ia memang bukan konglomerat ustadz, tapi hidupnya sangat berkecukupan. Setidaknya ia bisa membantu kami bila suatu saat kami hidup kesusahan. Dan ia sesungguhnya tak ingin putrinya hidup serba kekurangan sepanjang hayat. Tapi bila sudah berkeluarga, ia ingin putrinya tidak lagi bergantung kepadanya. Ia menantang bahwa dalam sepuluh tahun saya harus dapat memberi penghidupan yang layak buat putrinya. Kami sudah harus memiliki kehidupan yang berkecukupan. Bila tidak, ia meminta saya menceraikannya. Dan uniknya ia meminta hal itu diucapkan saat akad nikah, sebagai syarat”

Pemuda dan sang ustadz kemudian berdialog tentang hukum adanya syarat seperti itu.

Sosok kedua tokoh utama (dalam 2 bab)

Pada bab berikutnya, digambarkan latar belakang kehidupan pemuda shalih bernama Rizqaan ini dan juga pemudi shalihah bernama Halimah, yang nampaknya mempunyai beberapa kesamaan dan idealisme yang membuat mereka cocok satu sama lain. Rizqaan adalah seorang penuntut ilmu yang gigih yang langka dimana dikala kalangan pemuda yang lainnya larut dalam kehidupan dunia muda dengan beragam fenomenanya. Halimah adalah sosok muslimah yang teguh menjalani fitrahnya menjadi seorang muslimah kaffah dilingkungan keluarga yang jauh dari nilai agama.

Lembar-lembar kehidupan (dalam beberapa bab)

Dan bab-bab selanjutnya adalah torehan tinta dari perjalanan panjang dan melelahkan dari babak-babak kehidupan dua orang muda-mudi dalam mengayuh dayung sebuah biduk kecil bernama rumah tangga yang mereka bangun dengan dasar ketaqwaan kepada Rabb mereka. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Juga sampai pada masa-masa cobaan yang mereka sudah bukan dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang bisa saja menjerumuskan mereka ke jurang kenistaan.

Rizqaan memulai perjuangannya memberi nafkah kepada istrinya dengan mencoba berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dari sedikit modal yang dimilikinya. Kedua insan ini memulai hidup dalam keprihatinan, namun mereka tetap sabar dan yakin akan ketentuan yang diberikan Allah kepada mereka. Dari mulai diceritakan saat-saat mereka hanya makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya me-manage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses, berkat kejujurannya dan teguhnya memegang prinsip agamanya untuk tidak berdekatan dengan segala hal yang berbau haram maupun syubhat yang melingkupi bidang pekerjaannya. Rizqaan adalah tipe pekerja keras, namun ia bukanlah hamba dunia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun ia berniat menundukkan dunia itu agar menjadi ladang akhirat baginya. Kehidupan ruhaninya yang dulu pun tak menjadi rusak dikarenakan kesibukannya mencari harta, bahkan Rizqaan yang hanya lulusan SMA ini telah menjelma menjadi sosok yang layak menyandang gelar Al-Ustadz.

Kebahagiaan keduanya lengkap tatkala mereka mendapatkan keturunan dari Allah Ta’ala. Bisnis Rizqaan semakin maju, hingga kini Rizqaan sudah bukan lagi penjaja roti keliling tapi sudah menjadi seorang pengusaha roti yang mempekerjakan beberapa karyawan. Omzetnya pun bukan lagi puluhan ribu seperti ketika awal-awal ia merintis usahanya, namun sudah menjadi puluhan juta. Kerikil-kerikil tajam sudah barang tentu menjadi selingan dalam kehidupannya.

Gemuruh prahara

Pada bulan keenam tahun kesepuluh pernikahan mereka adalh puncak kebahagiaan yang mereka rasakan, tidak ada lagi kesusahan dalam hidup mereka. Rizqaan sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah mereka bukanlah rumah petak kontrakan ala kadarnya, namun sudah menjadi rumah mewah dengan pabrik roti di belakangnya. Akhirnya memasuki bulan kesebelas kehidupan yang mereka jalani terasa begitu lambat ketika mereka berusaha untuk mempertahankan kehidupan mereka dan menunggu hingga saat tiba bagi Rizqaan untuk membuktikan janjinya kepada mertuanya. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bagun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, hingga menjadikan ayah Rizqaan meninggal dunia. Belakangan di akhir cerita diceritakan, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.

Badai Susulan

Baru beberapa dua hari berselang dari musibah kebakaran tersebut, musibah lain datang menyapa. Hari itu adalah hari final dari perjanjian yang diucapkan Rizqaan saat akad nikah sepuluh tahun yang lalu. Sang mertua (Bapak Halimah) dengan kejamnya menagih janji dari Rizqaan dan menyatakan bahwa Rizqaan tidak dapat memenuhi janjinya, karena saat ini Rizqaan telah menjadi seorang yang bangkrut. Akhirnya dalam pergulatan batin yang hebat sebagai seorang muslim dan muslimah yang menaati Allah dan Rasulnya. Mau tak mau mereka harus menepati janji mereka.

“Halimah istriku……..” ujar Rizqaan, dengan napas tercekat.

“Ya, abuya. Kakanda. Suamiku.” Balas Halimah, tak kalah pedihnya.

“Dihadapan Allah. Atas Dasar ketaatan kita kepada-Nya. Dengan harapan Allah akan memperjumpakan kita di Surga kelak dalam sejuta keindahan yang melebihi segala yang pernah kita rasakan berdua. Atas dasar cinta kasih kita yang suci. Atas dasar kepedihan hati yang mendalam, yang hanya Allah yang mengatahuinya: SAYA MENALAQMU ADINDA.”

Meski tabah, tapi mau tidak mau tangisan Halimah meledak, tak terbendung lagi. Ia menagis terisak-isak. Ia tak pernah membayangkan, bahwa kesetiaannya kepada suami akan berujung pada kepedihan seperti ini. Ya Allah Ya Rabbi. Kami yakin, berkah sesungguhnya adalah pada cinta-Mu kepada kami. Kami merindukan cinta-Mu. Hati Rizqaan dan Halimah berbisik lirih.

Lembaran-lembaran baru kehidupan Rizqaan, Halimah dan Nabhaan anak mereka

Pada bab-bab selanjutnya dikisahkan bagaimana Rizqaan merintis kembali usahanya yang telah hancur dengan sekuat tenaga dan ketabahannya menghadapi cobaan. Juga dikisahkan bagaimana kehidupan Halimah selanjutnya selepas menyandang predikat sebagai seorang janda yang sangat tidak dia harapkan. Tak lupa bagaimana rintihan putra mereka Nabhaan yang saat itu berusia delapan tahun ketika menanyakan kenapa kehidupannya tidak bisa bahagia seperti dulu lagi. Sampai pada suatu saat, ketika ada seorang duda kaya raya anak seorang pejabat yang mengutarakan keinginan untuk menikahi Halimah. Dikisahkan inilah sebab mengapa Asyraf, abang Halimah, melakukan perbuatan keji merusak kehidupan rumah tangga Rizqaan dan Halimah. Namun entah apa yang dibicarakan oleh Halimah, duda tersebut dan ayahnya, ketika mereka berniat melamar Halimah, sehingga menjadikan mererka mengurungkan niat untuk melamarnya. Saat diceraikan oleh Rizqaan, halimah sedang mengandung anak kedua mereka, dan saat menjadi janda kondisi kesehatan Halimah menjadi memburuk dan ternya Halimah telah divonis menderita leukimia (kanker darah) dengan diagnosa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hari-hari berlalu sampai suatu ketika Ayah Halimah menyadari bahwa Halimah tidak akan bisa menikah dengan lelaki lain selain Rizqaan.

Ending yang mengharukan

Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali.

**************************************

“Kami datang, untuk sebuah keperluan yang mungkin tak pernah kamu duga ananda. Setelah perdebatan panjang, dan banyak kisah-kisah di sekitarnya, kami berniat, akan menikahkanmu kembali dengan putri kami, Halimah…..”

“A….pa…? menikahkanku kembali dengan Halimah” Rizqaan tergagap. Ia tak mampu berbicara. Ada kelebatan sinar menyapu otaknya. Sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yang tidak terkira.

*************************************

“Abuya….”

“Maaf, aku belum menjadi suamimu lagi….” sela Rizqaan

“Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya. Aku tak terbiasa dengan panggilan lain.”

“Baiklah. Ada apa Adinda?”

“Abuya. Apakah abuya siap menikahiku lagi?”

“Adinda Halimah, kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu. Aku senantiasa mencintaimu. Hanya karena kita bukan suami istri lagi, aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin. Tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi, aku tak mungkin menolak.”

“Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yang tidak kumiliki sebelumnya?”

“Kekurangan apa Adinda?”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Ya. Aku akan menikahimu dengan segala kekuranganmu yang ada. Selama itu bukanlah cacat dalam agamamu yang tidak dapat diperbaiki.” Ujar Rizqaan tegas.

“Abuya. Aku ingin Abuya menikahiku. Karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami shalih…..” Halimah berhenti sejenak. Ada keharuan yang membuatnya tercekat, sehingga sulit bicara.

“Abuya bisa segera menikahiku. Tapi aku tak tahu, apakah keinginan itu akan tetap ada, setelah Abuya mengetahui kekuranganku sekarang. Abuya, aku baru saja satu minggu yang lalu melakukan check up. Dan aku terbukti mengidap leukimia…” sampai disitu, Halimah terisak. Ia tak mapu melanjutkan bicaranya.

Rizqaan merasa tersentak. Tapi demi Allah, ia tak sedikit pun merasa sedih. Kegembiraan bisa kembali bersama istrinya, tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah tersebut.

“Dokter mengklain bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja….” kembali Halimah menangis.

“Aku tidak peduli. Umur ada di tangan Allah. Manusia hanya mapu mengira-ngira. Nyawaku, bisa saja lebih dahulu terenggut daripada nyawamu. Aku akan segera menikahimu. Biarlah Allah yang menentukan akhir perjalanan hidup kita. Bagiku, hidup atau mati bersamamu, dalam “kecintaan” Allah adalah sebuah kenyataan yang paling penuh berkah”. Rizqaan berbicara dengan kayakinan kokoh membelit jiwanya.

*******************************************

Rizqaan dan Halimah kembali hidup berbahagia. Mereka kembali mengulang masa-masa penuh keceriaan di antara mereka. Satu bulan kemudian, anak mereka yang kedua lahir. Ia seorang bayi perempuan yang cantik. Mirip ibunya, Halimah. Bayi itu dilahirkan dengan cara normal. Bayi maupun ibunya sama-sama selamat.

*******************************************

Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba, dan juga berita tentang dalang penyebab kebakaran yang menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut. Dan Halimah seketika jatuh pingsan dan sakit.

******************************************

Sore menjelang Maghrib, Halimah terbangun. Disampingnya duduk Rizqaan. Sementara di depannya, Ayah dan ibunya duduk diatas kursi plastik. Mereka semua cemas menantikan kesadarannya. Seorang dokter perempuan –yang sengaja diundang ke rumah- mendekatinya. Memeriksa nadinya, lalu memberikan suntikan di bagian lengannya.

“A…..Abuya….” Halimah berkata lirih.

“Aku disini Adinda”

“Alhamdulillah. Apakah sudah maghrib? “tanya Halimah.

“Belum. Masih kira-kira sepuluh menit lagi.”

“Abuya…”sapa Halimah pelan.

“Ada apa Adinda.”

“Apakah Abuya masih mencintaiku?”

“Tentu Adinda. Aku selalu mencintaimu karena Allah.”

“Aku juga mencintaimu karena Allah, Abuya.” Halimah diam sejenak lalu ia bertanya lirih.

“Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yang menimpa kita, Abuya?”

“Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar, Adinda….”

“Abuya. Jawablah pertanyaanku.”

“Ya. Apa Adinda?”

“Apakah engkau meridhaiku sebagai Istri?”

“Sudah tentu Adinda. Suami mana pun akan meridhai istri seshaliha dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…..”

“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat. Aku ingin termasuk di antara wanita yang disebutkan dalam Hadits.”

“Bagaimana itu Adinda?”

أًَيُّمَا امْرَ أًَ ة مَا تَتْ وَ زَ جُهَا عَنْهَا رَا ض د خَلَت الْجَنَّهَ

“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk surga.”

Halimah mengucapkan Hadits itu sedemikian fasihnya. Arab, berikut terjemahannya.

“Semua wanita shalihah, mengidamkan hal itu Adinda, dengan izin Allah, Adinda akan termasuk di dalamnya.”

“Allahumma amien. Abuya, sekarang aku puas. Apaun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdo’a setiap malam, agar aku bisa berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah kemudian dengan keridhaan suamiku…..” Halimah berhenti sejenak.

“Abuya, betapa indahnya bila Allah betul-betul mencintai kita. Aku ingin dengan cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan Cuma di dunia, tapi juga di akhirat.”

Halimah menghela nafasnya yang terasa begitu berat.

“Abuya bila aku sudah tiada, berjanjilah untuk senantiasa berjalan di atas ajaran Allah. Didiklah anak kita, dan berbaktilah kepada orang tua….”

“Jangan berkata begitu Adinda….” Rizqaan menyela.

Halimah memberikan isyarat dengan tangannya, agar Rizqaan tidak bertanya apa-apa.

“Berjanjilah Abuya…..”

“Aku berjanji Adinda. Tanpa berjanji pun, ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut ibu mereka….” ujar Rizqaan.

“Alhamdulillah…….”

“Abuya….tabir itu mulai terbuka…..Aku mencintaimu, Abuya. Abuya tak perlu meragukan cintaku. Tapi aku lebih merindukan Allah. Bila ini kesempatanku bersua dengan-Nya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun…….”

“Adinda….”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

“Adinda….”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

Suara tahlil itu semakin lembut dan syahdu dari mulut Halimah. Terus menerus. Semakin lama, semakin lemah. Namun semakin syahdu. Sampai akhirnya suara terakhir terdengar, masih sama, “Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

Usai berakhirnya suara itu, nafas Halimah terhenti. Di tengah keheningan kamar di rumah mereka, yang masih tercium bau catnya. Karena belum lama dibangun Halimah mengehembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu menjerit. Sang bapak menangis. Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir deras. Pernikahannya dengan Halimah yang merupakan masa kembalinya kebahagiaannya yang beberapa saat nyaris lenyap, kini nyaris terenggut kembali. Tapi kepergian Halimah dengan kondisi yang menyemburatkan aurat Surga, membuat hatinya terasa nyaman. Ia bersedih, tapi juga berbangga dengan istrinya. Kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yang menyejukkan jiwanya. Betapa berbahagia Halimah.

Tak lama kemudian, adzan maghrib terdengar. Mereka mendengarkannya dengan khusyu’. Saat lantunan adzan berhenti, Ayah Halimah mendekati Rizqaan. Ia manatap menantunya yang sekian lama ia kecewakan. Sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan. Pria yang –dengan seizin Allah- telah mengubah wujud putrinya, sehingga menjelma menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran. Ia menatap pemuda itu. Air matanya menetes tak terbendung. Penyesalan membuncah sehingga nyaris membakar otak. Ia nyaris bisu dalam suasana hati yang kuyup penyesalan.

“Duhai, seandainya aku masih memilki putri yang lain. Pasti aku akan menikahkannya denganmu, ananda.” Ujar ayah Halimah kepada Rizqaan.

“Halimah sudah cukup bagiku pak. Nikahkanlah aku kembali dengan putrimu itu pak.”

“Aku sudah melakukannya dua kali ananda…..”

“Cobalah untuk yang ketiga kalinya pak…”ujar Rizqaan lirih.

“Itu bukan lagi hakku ananda. Biarlah Allah yang akan menikahkanmu dengannya di Surga kelak. Relakanlah kepergiannya saat ini. Semua kita toh pasti akan mati juga. Gapailah Surga dengan amal ibadahmu. Dengan ketulusan hatimu. Hanya dengan itu Allah akan berkenan mempertemukanmu kembali dengannya…..”

Rizqaan tersenyum.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

masuklah ke dalam syurga-Ku.

****************************************

Buku ini saya baca ba’da zhuhur dan selesai menamatkan lembar demi lembar halaman penuh hikmahnya selepas ashar. Sungguh saya berarti telah membohongi diri sendiri bila tidak menitikkan air mata terhanyut dalam episode perjalanan kehidupan anak manusia yang subhanallah sangat layak dijadikan bahan pelajaran ini.

Wahai saudara-saudariku seiman, saya tidak akan mengingkari bahwa novel, cerpen, dan cerita berlabel Islami lainnya dapat diambil hikmahnya. Bahkan menurut kalian hal itu bisa dijadikan sarana dakwah kepada orang-orang yang belum mengenal Islam dengan sekelumit kaidah-kaidah syar’iyah di dalamnya. Tidak wahai saudara-saudariku, saya juga pernah terlarut di dalam menikmati beragam karya sastra tersebut, bahkan dari pengarang kafir dan atheis sekalipun saya pernah menikmatinya. Tetapi sekali lagi, tujuan tidaklah menghalalkan cara, dan kebaikan tidak akan diperoleh dengan jalan yang bathil. Maafkan saya, dalam hal ini saya tidak sependapat dengan kalian, karena hal ini telah jelas seperti layaknya sinar mentari yang terang benderang yang menerangi suatu jalan yang lurus.

Resensi selesai dibuat selepas Isya’ 22 Rajab 1429 H

Blog reference: http://kaspo.wordpress.com/2008/07/26/sandiwara-langit/


Bagi yang mau pesen bukunya silakan kontak kami..

@Untuk wilayah jepang–>Email ke gats_akira[at]yahoo.com,Y!M gats_akira

@Untuk wilayah Indonesia–>Email ke toko_shafiyya[at]yahoo.com,Y!M abu_fauzi_altoari atau henry_alfitrah

To Centrair

img_0923 Senin kemarin Jalan-jalan sama Istri bareng si kecil juga ke bandara Internasional Chubu(Centrair),Jalan2 kok ke bandara:D..hehe..Itung-itung sekalian jemput istrinya mas Dani,mungkin lebih tepat dibilang sebaliknya,jemput istri temen yang baru dari Indonesia itung-itung sekalian jalan..hehe.

Biasanya kalau ke bandara chubu selalu ngejar penerbangan pagi,selalu terburu-buru dan nggak sempat menikmati perjalanan,apalagi bawa koper gede-gede.Nah senin kemarin,cuma jemput nggak repot bawa barang banyak..naik Densha shiteiseki lagi(KA listrik reserved seat):D.Jadi sempat foto-fotoan dalam KA,pemandangan selama perjalanan juga enak dipandang.

Refreshing yang cukup berarti,apalagi di musim dingin seperti sekarang yang banyak ngabisin waktu di ruangan dan males keluar.Kalau jalan-jalan pakai kereta api,spacenya luas,pemandangan di luar juga bisa dinikmati dari jendela KA,apalagi bawa istri dan si cantik Raisha..kaiteki desu:D

Ada sedikit yang kurang,Raisha diperjalanan ternyata masih ngantuk berat karena harus dibangunin pagi-pagi,nggak sempat mandi lagi:)..apalagi malemnya sempat panas badannya,masih lemes,ngeeek..ngeek..rewel..hehe..

Sudah sampai di bandara,masih belum smangat juga,tapi mau juga diajak main sama ayahnya pakai kereta dorong buat barang..:D

img_09521 img_0971 Sepulangnya dari bandara,banyak mengalami trouble😦 karena miss schedule,kurang persiapan,terus rencana tak terduga juga ada..akhirnya puter sana puter sini di Nagoya,kelelahan bareng sekeluarga,nggak terasa sampai sore akhirnya jadwal perjalanan saya selanjutnya dibatalkan.

Walaupun agak lelah,tetapi cukup menjadi refreshing buat saya:)

Sesuai dengan motto saya,refreshing itu penting,dan refreshing itu tidak harus pergi ke tempat yang indah,makan yang enak,bermain maupun belanja..tapi refreshing itu juga bisa didapat dengan cara menikmati setiap perjalanan yang kita lalui,karena di situ pasti ada hal baru yang sangat menarik.

omakeni..

img_09611

Gagat sukmono

Raisha`s papa

Small winning

img1(Nagano-perf,Japan) Ahad 14 des 2008 diadakan penyerahan hadiah dan piagam lomba menulis yang diadakan oleh “The international association of Y`S men`s club” .

Lomba menulis ini diikuti oleh Mahasiswa asing (di jepang) dari 6 negara asia.China,korea,Indonesia,Myanmar,Vietnam,Mongolia.

Alhamdulillah tahun ini bisa dapet ITOU Prize(Special Prize):D.Pokoknya istimewa deh..hehe..

Pada acara tsb hadir juga Guru besar Akita univ. Mr.Takizawa Masayuki menjadi pembicara seminar tentang Masalah kerusakan lingkungan dan Efeknya terhadap Kesehatan.Dan banyak hadir juga dosen-dosen yang lain.

Ohya,Bagi yang ingin baca artikel yang saya kirim silakan baca di sini pdf file.

Karangan dalam bahasa Jepang:)

Semoga bisa memotivasi untuk berkarya lebih baik lagi.

Ayo terus semangat..

Gagat sukmono

Artikelku harganya Rp 1 juta lebih:D

img Bulan kemaren saya ikut lomba menulis”Ajia shou”(Asian award) khusus untuk mahasiswa asing di perfektur Nagano.Lomba ini rutin diadakan setiap tahun,dan tahun ini adalah yang ke-10.Dan kali ketiga saya ikut.

Pertama kali,saya hanya memperoleh Juara Harapan.Menulis artikel dengan tema “Memikirkan lingkungan sama dengan memikirkan masa depan”(dlm bhs jepang)

Kemudian yang kedua:gagal.

Akhirnya coba lagi untuk yang terakhir kali,soalnya mulai tahun depan insyaAllah pindah ke daerah lain.Kali ketiga ini,mencoba untuk lebih serius..mudah-mudahan dapat juara 1 atau 2.Eh tapi ternyata harapan tidak tersampaikan.Juara 1 dan 2,berlaluu..

Tapi tidak kalah senang,alhamdulillah artikel saya terpilih untuk memperoleh “伊藤賞/特別賞”(ITOU Prize/Special Prize).Sebuah penghargaan khusus.Dengan hadiah 10.000 yen plus sertifikat.Kalau dilihat nominalnya,memang tidak seberapa.Tapi usaha yang membuahkan hasil bagi saya adalah kebahagiaan..hehe..

Artikel kali ini bertema”Mewujudkan dunia yang damai”

By the way,artikelnya dalam bahasa jepang.Nanti setelah pembagian sertifikatnya tgl 14,insyaAllah saya posting artikelnya.Selamat menunggu:D

n.b Picture di atas itu hasil scan kertas pengumuman juara.

salam,gagat sukmono

Belajar dari kesuksesan

success“Bukan berarti anda harus jadi plagiator”

Kalau anda butuh cara cepat untuk sukses,belajar dari kesuksesan orang lain adalah salah satu alternatif besar untuk meraihnya.

Tapi jangan terlalu salah kaprah mengartikannya.Kita tetap saja tidak dibenarkan menjiplak hasil karya orang lain.Yang seharusnya kita tiru dari orang yang sukses adalah “dasar”nya yaitu sifat dan prilaku yang membawa kepada kesuksesan tersebut.

Misalnya kita ingin meniru seorang Mahasiswa yang sukses.Maka yang perlu kita lakukan adalah,membuat list kebiasaan dan cara belajarnya,waktu dia belajar,kebiasaan istirahatnya,dan juga rutinitas yang lain.Itulah hal-hal yang harus kita tiru untuk mengikuti kesuksesannya.

Contoh lain,kita ingin menjadi penulis handal,maka apa langkah yang perlu kita ambil?Ya,yaitu meniru kebiasaan para penulis profesional.Misalnya saja para penulis besar terbiasa latihan menulis 5 halaman setiap harinya,dan mereka juga terbiasa membaca berbagai macam buku.Maka kita harus belajar untuk menjadi seperti mereka.Kalau belum bisa mempunyai kebiasaan sehebat mereka,tidak mengapa kita mulai dari yang kita mampu saja,yang penting kita tetap mempertahankan pola berlatihnya.

Tidak ada salahnya mencoba dan yakinlah anda juga pasti bisa sukses!

(image:photobucket.com kw:success)

Gagat sukmono

Owner1 toko shafiyya

Figur anak muda pintar,berani,aktif…,siapa bilang anak muda tak bisa?

Anak muda pintar,berani,aktif,kreatif,bersahaja dan beragama adalah harapan bangsa.Melahirkan satu yang seperti mereka akan semakin memberi harapan cerahnya masa depan negara kita.Apalagi jika muncul 10 atau 100 atau lebih yang seperti mereka?..

Di tengah kondisi negara yang belum kondusif di banyak bidang para pemuda seakan kehilangan figur untuk maju,akhirnya mereka di masa muda yang penuh berjuta kemungkinan tanpa sadar menutup banyak pintu-pintu menuju sukses.

Ini saya berikan beberapa kisah dan figur anak muda yang terus semangat,kreatif,inovatif dan selalu ingin berubah kearah yang lebih baik di bidang wirausaha.

Tiga sekawan,toko shafiyya dan kisah mereka bisnis di negeri sakura

Toko shafiyya hadir di masyarakat sebagai distributor pakaian muslim/muslimah yang sesuai syar`i(tidak ketat,lebar dan menutup aurat),mengahadirkan produk-produk berkualitas dan harga yang murah.Toko shafiyya juga sebagai distributor buku-buku agama islam sesuai sunnah.Toko shafiyya memasarkan koleksinya tidak hanya di dalam negeri,tapi juga di jepang.Walaupun kecil-kecilan omsetnya sudah puluhan juta.

Gagat(saya),alex dan dani adalah tiga sekawan yang membangun toko shafiyya dari awal.Kami bertiga selalu berusaha berfikir fleksibel,open mind dengan segala perubahan yang baik,memandang sesuatu dengan beragam kemungkinan.Kesuksesan bagi kami tidak harus dengan bekerja di perusahaan besar atau di pemerintahan.Walaupun kami belajar teknik di jepang,tapi kami juga tetap semangat untuk mempelajari manajemen,marketing dan ekonomi,karena kami juga mempunyai mimpi untuk mendirikan perusahaan sendiri.Seperti diungkapkan oleh orang-orang jepang,selama orang di negara kita tidak bisa mendirikan perusahaan sendiri maka selamanya kekayaan negara akan dikuasai oleh negara lain.Prinsip kami sederhana,berbuat yang bermanfaat.Mudah-mudahan peran kami bisa turut membesarkan bangsa dan agama.

Saya juga aktif sebagai pengajar bahasa indonesia(sekolah ETC) private lesson untuk orang-orang di perusahaan jepang yang akan tugas di indonesia,dan juga baru aktif sebagai pengajar bahasa jepang.

Alex juga seorang interpreter bhs jepang yang berpengalaman,dani juga akan segera aktif mengajar private bhs indonesia.

Ini saya link kan beberapa kisah sukses anak-anak muda lain,mudah-mudahan terus menginspirasi kita untuk maju.

Usia 25 Thn,miliki 300 outlet kebab turki

Mark Zuckerberg (24 tahun): Rp 13,5 Trilyun

Asep, Konglomerat Muda Dari Desa Cidahu

Pebisnis Dunia Maya Asal Surabaya, Berkantor di Kamar, Raup 90 juta sebulan

Pengusaha muda terbaik dunia (dibawah 25 tahun)

Gagat sukmono

owner1 tokoshafiyya

Raisha 7 bulan

Raisha sekarang udah 7 bulan,..

Nih foto-foto kawainya..:D

image1091dsc01651Menyambut musim dingin,kostum oke!!

e794bbe5838f-0094

dsc01643Kawaiinyaa..

dsc01649Mhh..gaya gini boleh Yah?