SAKURA Japanese Learning Center, Bekasi

Home » #life » “Jangan masuk!”atau”tetaplah di luar!”?

“Jangan masuk!”atau”tetaplah di luar!”?

Almanak

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Anda adalah pengunjung ke:

  • 119,602 hits

Pengunjung site ini

Gagat Sukmono

Categories

Saya heran,semakin saya wanti-wanti kok malah semakin banyak yang rusak.

Itu terjadi ketika saya mengajar praktikum kepada mahasiswa tingkat 3 di kampus.

aa..yachatta sumimasen..(aduhh..maaf saya salah),itu kali kedua saya mendengar kalimat senada dari anak mahasiswa tkt 3 pada hari itu.Wah..lagi-lagi larutan kimia itu masuk ke bulb(penghisap) karena salah pencet,yang harusnya dipencet tombol yang buat ngeluarin eh malah terpencet yang untuk menghisap.Walhasil..praktikum hari itu berhasil merusakan dua buah bulb yang masing-masing berharga sepuluh ribu yen atau sekitar 850rb rupiah.Padahal dari awal saya sangat mewanti-wanti agar tidak salah pencet,karena minggu sebelumnya sudah rusak satu buah bulb oleh kelompok yg lain.

Sekedar informasi,jika bulb(alat penghisap) sudah kemasukan air maupun larutan kimia yg lain otomatis tidak bisa dipakai lagi untuk praktikum,karena presensinya(keakuratannya) juga menjadi tidak tepat,dan kemudian bulb yang sudah bercampur dengan suatu larutan kimia apabila digunakan untuk mengambil larutan yang lain maka akan berbahaya jika bercampur dengan larutan yg masuk ke dalam bulb,atau paling tidak praktikumpun menjadi sangat tidak akurat.

Balik ke topik,

kureguremo oshimachigawanai you ni(Pokoknya harus diinget agar jangan salah pencet ya!!)

Sudah berkali-kali saya tekankan hal itu ketika menjelaskan tentang cara memakai bulb maupun hole pipete kepada peserta praktikum.Namun hasilnya malah tambah parah dari minggu sebelumnya.Padahal saya lihat anak-anak sudah sebegitu hati-hatinya menggunakan bulb tersebut.Ntah kenapa,seakan-akan justru ada energi negatif karena saking dilarangnya salah pencet.Beda dengan minggu sebelumnya,hanya sekali saya mengingatkan mereka,tapi justru sedikit kesalahan yg mereka lakukan.hmm..fushigi da na(aneh yaa..).

Berselang berapa lama,keanehan yang saya rasakan itu sedikit mendapat pencerahan itu ketika suatu hari saya sedang mampir di toko buku.

hikiyouse no housoku alias the law of attraction,itulah judul dari buku yang sedikit memberi pencerahan pada saya.(The law of attraction ini intinya juga sama dengan yang dalam buku The secretnya Rhonda byrne)baca juga The secret pada postingan sebelumnya.

Walaupun tidak sempat saya baca seluruhnya,tapi di awal-awal tulisan buku itu,ada isi yang begitu menarik perhatian saya,

Dalam The law of attraction,dijelaskan bahwa kita akan mendapatkan apa yng kita inginkan.Pikiran yang positif maka akan membawa energi yang positif dan kemudian ibarat sebuah magnet,pikiran kita akan menarik faktor-faktor yang akan membantu mewujudkan apa yang kita inginkan tersebut secara alami.

Bertolak dari prinsip the law of attraction itu,si penulis menjelaskan bahwa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan maka ucapkanlah yang positif dan searah dengan keinginan tersebut bukan sebaliknya..

Misalnya saja ketika kita menginginkan orang lain tidak masuk ke dalam kamar kita,maka sebaiknya tidak mengatakan”jangan masuk!!” namun yang lebih tepatnya adalah “tetaplah di luar”.

Contoh lainnya,

“jangan berisik” diganti dengan “Tenanglah sedikit”

“jangan duduk”diganti dengan “berdirilah”

dan seterusnya.Pada intinya,dalam melarang sesuatu sebaiknya mengganti kata-kata “jangan” atau “tidak”maupun kata pelarangan yang lain,dengan kata-kata perintah yang sifatnya positif atau yang sifatnya menganjurkan untuk melakukannya.

Kira-kira seperti itulah yang dijelaskan di awal buku itu.

Rasanya hal itu pas sekali dengan ungkapan banyak orang yang mengatakan”semakin dilarang malah jadi semakin penasaran untuk melanggar”.Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga penjelasan di atas,semakin dilarang malah energi untuk melanggar menjadi semakin besar.

Saya juga kembali teringat sebuah acara di televisi yg sudah disiarkan beberapa bulan yang lalu.

Seorang anak kecil sedang menyeberang jalan raya,tiba-tiba datang sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hendak melintas.Pertanyaannya,apakah yang sebaiknya diteriakkan oleh ibu si anak yang berada di tepi jalan kepada anaknya tersebut agar terhindar dari mobil yang melaju kencang?

Jawabannya bukan “awaaas..!”

tapi yang harusnya diucapkan adalah”lariii…!!”

Karena ketika diteriakkan kata “awaaas!!”justru membuat si anak akan menjadi penasaran dan kemudian mencari sumber bahaya,dan di saat beberapa detik kelengahan itulah akhirnya mobil menabrak si anak.

Berbeda dengan teriakan kata “lariii!!”.

Si anak otomatis akan segera berlari begitu mendengar teriakan yang keras dan penuh nada bahaya.

Dari situ kita juga bisa membandingkan,kata “awas”adalah suatu bentuk kata seru yang negatif.Sedangkan “larii” adalah kata perintah positif.

Dari beberapa kejadian di atas saya mengambil kesimpulan sementara yaitu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan,kita harus menggunakan kalimat dalam bentuk positif dan yang searah dengan apa yang kita inginkan.

Sangat masuk akal dan menarik untuk dicoba.Saya tahu belakangan ternyata dalam mendidik anakpun sangat dianjurkan menggunakan cara-cara di atas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: